Set net dan kecepatan arus

Hubungan Kecepatan Arus terhadap Hasil Tangkapan Set Net (Teichi ami) di Teluk Mallasoro Kabupaten Jeneponto  


Rais, M.*1, Sudirman.2 and Hajar, M, A, I.2

1)Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian
Universitas Asahan, Sumatera Utara, Indonesia.
*E-mail: mohammadrais.fish@gmail.com
2) Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas  Hasanuddin, Sulawesi Selatan, Indonesia.


ABSTRAK
Set net merupakan teknologi penangkapan ikan yang baru diperkenalkan di Indonesia.Hasil tangkapan set net mengalami fluktuasi harian yang disebabkan pengaruh oseanografi seperti kecepatan arus. Kecepatan arus  memiliki pengaruh terhadap hasil tangkapan baik langsung ataupun tidak langsung.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan. Penelitian ini dilakukan pada April – Juni 2013 di Teluk Mallasoro Jeneponto. Parameter yang diamati adalah komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan. serta pengukuran kecepatan arus di sekitar alat tangkap set net dengan berbagai kedalaman. Kecepatan arus dikategorikan menjadi tiga yakni Arus kuat (>40 cm/s), sedang (20-39 cm/s) dan lemah (1-19 cm/s). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 14 family ikan yang didapatkan selama penelitian dengan total tangkapan 4430 Kg. Tangkapan dominan dari family Trichiuridae  1402 kg (31.65 %), Carangidae 1123 kg (25.35%), Leiognatidae 624 kg (14.09%), Belonidae 305 kg (6.88%) dan Sphyraenidae 211 kg (4.76%). Analisis pengaruh kecepatan arus yang berbeda terhadap hasil tangkapan didapatkan adanya hubungan yang signifikan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan pada kondisi arus yang sedang.

Keywords: hasil tangkapan, arus, set net, Sulawesi selatan

ABSTRACT 
Set net is a new technolgy of fish catching in Indonesia. Catching Result of set net undergoes a day fluctuation that is caused by oceanograhy affect such as velocity current. Relationshiop velocity of catching result has an affect both of directly and undirectly. This research of purpose to analize relationship of current with catching result. This research had done on April – June 2013 in Mallasoro Bay, Jeneponto. Parameters measured were based on family composition of fish catches and current velocity measurements around a set net with a variety of depths. Velocity of current categorized into three namely are strong currents (> 40 cm / s), medium (20-39 cm / s) and weak (1-19 cm / s). The results showed that there are 14 families of fish were obtained during the study with a total catch of 4430 kg. The dominant catch of 1402 kg Trichiuridae family (31.65%), Carangidae 1123 kg (25.35%), Leiognatidae 624 kg (14:09%), Belonidae 305 kg (6.88%) and Sphyraenidae 211 kg (4.76%). Analysis of the effect of different current velocities of the catches obtained a significant relationship to the current velocity of the catch on the medium conditions.

Keywords:, catch,current, set net, Sulawesi selatan


I.                    PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Usaha untuk mengeksploitasi sumberdaya perikanan telah dilakukan sejak dulu. Berbagai jenis penelitian dan kajian dilakukan untuk mengevaluasi dan mengembangkan usaha-usaha penangkapan agar dapat mengoptimalkan hasil tangkapan seperti penyediaan informasi daerah penangkapan (Sofyan, et al. 2009), alat tangkap yang digunakan dan mempelajari tingkah laku ikan serta kondisi lingkungan perairan (Gunarso, 1985).  Salah satu upaya dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan yang besar dilakukan pengoperasian alat tangkap set net. Menurut Sudirman,dkk. (2010) set net dapat digambarkan sebagai alat tangkap yang memiliki penaju (leader net) yang berfungsi untuk mengarahkan kelompok ikan masuk ke dalam serambi (play ground). Serambi berbentuk kerucut yang mempunyai fungsi sebagai tempat berkumpulnya kelompok ikan sebelum masuk ke dalam kantong (bag net). Kantong adalah tempat terakhir dari kelompok ikan terkumpul, dimana pada bagian kantong inilah yang diangkat (hauling) oleh nelayan untuk memanen hasil tangkapan. Di Jepang, set net  merupakan alat tangkap yang banyak digunakan di Pesisir pantai sebagaimana yang disebutkan oleh Masatsune (1980), Baskoro (1995) dalam Sudirman et al (2000) bahwa Pada tahun 1997 ada 1.704 unit  Set net  berukuran  besar dan 13.272 unit Set net  berukuran kecil. Perikanan Set net  berkontribusi 10,6% dalam produksi total ikan di Jepang . Set net yang dioperasikan di Teluk Mallasoro diinisiasi oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang yang mengimplementasikan program uji coba pengembangan Jaring Perangkap Pasif (Set net) melalui konsep pemberdayaan nelayan pesisir Pulau Libukang di perairan Teluk Mallasoro, Kabupaten Jeneponto. Dalam pengoperasiannya, hasil tangkapan  berfluktuasi dan komposisi jenis  ikan yang tertangkap sangatlah tinggi. Dari data penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hajar (2011) didapatkan jumlah jenis ikan yang tertangkap  sebanyak 30-38 jenis yang meliputi jenis ikan pelagis dan demersal. Selain komposisi jenis yang bervariasi tinggi, jumlah atau berat masing-masing spesies yang tertangkap setiap kali hauling juga menunjukkan adanya variasi yang tinggi. Komposisi dan jumlah hasil tangkapan setiap harinya mampu memberikan gambaran tentang pola kedatangan ikan seperti besar dan sifat gerombolan. Set net  merupakan alat tangkap yang dipasang permanen dengan rangkaian panel-panel jaring, mulai dari bagian permukaan hingga ke dasar perairan. Berdasarkan konstruksi alat tangkap memberi konsekuensi terhadap tekanan arus yang mampu mempengaruhi bentuk konstruksi jaring di perairan. Semakin besar tekanan arus terhadap jaring, maka peluang ikan masuk semakin kecil. Dengan demikian, informasi mengenai hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan set net merupakan informasi yang diperlukan dalam rangka pengembangan alat tangkap tersebut.

I.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan set net di Teluk Mallasoro Kabupaten Jeneponto.

II.            METODE PENELITIAN
II.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juni 2013 pada alat tangkap Set net yang dioperasikan di Teluk Mallasoro Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan.
II.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah kapal pengangkut,  timbangan, Current Meter (pengukur arus) dan buku identifikasi ikan laut untuk statistik Perikanan Tangkap (Dirjen Tangkap, 2005) dan Allen (2000).  Adapun bahan yang digunakan adalah hasil tangkapan harian Set Net.

II.3 Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi langsung dengan mengikuti operasi penangkapan set net selama 30 trip dan mengambil hasil tangkapan kemudian dianalisis untuk mendapatkan komposisi dan berat hasil tangkapan. Pengukuran kondisi oseanografi lokasi penelitian dilakukan di ujung penaju, di kantong barat dan di kantong timur pada setiap pengambilan hasil tangkapan.

II.4 Analisis Data
Data hasil tangkapan dianalisis dengan menggunakan rumus :
dimana : P = persentase satu jenis ikan yang tertangkap; n1 = berat satu jenis ikan setiap kali sampling (kg); dan N = berat total tangkapan setiap kali hauling (kg).
Setelah didapatkan komposisi perjenis ikan, selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan familI ikan. Hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan dianalisis menggunakan analisis corelasi dengan mengelompokkan berbagai  kondisi arus.





III.           HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1 Hasil
a.    Total Tangkapan Per Trip

Total tangkapan per trip selama periode penelitian sangat berfluktuasi. Pada Gambar 1 menunjukkan produksi tertinggi adalah trip ke 23 dengan total tangkapan 336 Kg dan tangkapan terendah ditunjukkan pada trip yang ke 4 dengan total tangkapan 50 Kg.
 












Gambar 1. Produksi Tangkapan per trip selama Penelitian

b.    Komposisi Jenis Hasil Tangkapan
Perbedaan komposisi jenis hasil tangkapan  setiap harinya menunjukkan perbedaan tingkah laku ikan pada suatu alat tangkap. Komposisi jenis berdasarkan family ikan pada total hasil tangkapan menunjukkan 5 tangkapan dominan yakni family Trichiuridae sebesar 1402 kg (31.65 %), Carangidae 1123 kg (25.35%), Leiognatidae 624 kg (14.09%), Belonidae 305 kg (6.88%) dan Sphyraenidae 211 kg (4.76%). Komposisi hasil tangkapan total selama penelitian dapat dilihat pada gambar 2.
 









Gambar 12. Komposisi Jenis hasil tangkapan




Gambar 2. Komposisi Jenis hasil tangkapan

c.    Perbedaan Hasil Tangkapan Berdasarkan Kecepatan Arus
Sifat alat tangkap Set Net yang pasif dan permanen di dalam perairan akan terus mendapatkan pengaruh arus yang berbeda-beda setiap saat sehingga perbedaan arus menyebabkan perbedaan hasil tangkapan baik dari jenis maupun total tangkapan.  Hubungan kecepatan dan arah arus  terhadap hasil tangkapan dapat dibuktikan dengan analisis regresi yang juga memiliki uji corelasi. Analisis statistik korelasi bertujuan untuk mendapatkan nilai keeratan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Semakin besar nilai keeratan (mendekati 1) maka hal ini menjelaskan semakin besar hubungan  kedua variabel tersebut. Nilai korelasi yang ditunjukkan oleh hubungan antara kecepatan arus terhadap hasil tangkapan Set Net ditunjukkan pada tabel .Nilai korelasi ini didapatkan dari hasil analisis regresi kecepatan arus terhadap hasil tangkapan selama 30 trip periode penelitian.

Tabel 1. Nilai hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan Pada kondisi arus yang berbeda
Kecepatan Arus (cm/detik)
Korelasi dengan
Tangkapan
Signifikan
R square (r2)
Lemah
0.349
0.76
0.128
Sedang
0.504
0.049
0.314
Kuat
0.616
0.185
0.965
Hasil analisis hubungan kecepatan arus terhadap hasil tangkapan ikan secara statistik menunjukkan bahwa arus lemah dengan kisaran 1-19 cm/dtk mendapatkan rata-rata hasil tangkapan yang lebih besar jika dibandingkan dengan arus sedang (20-39 cm/dtk) dan arus yang kuat (>40 cm/dtk).Pada kondisi arus yang sedang dengan nilai signifikan 0.04<0.05 dan nilai keereatannya 0.5 serta nilai R2 0.31 yang berarti 31 % hasil tangkapan dapat dijelaskan oleh  kecepatan arus. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi yang baik dalam kesuksesan pengoperasian alat tangkap set net adalah pada kondisi arus yang lemah dan sedang dengan kisaran kecepatan arus 1- 39 cm/detik. Hal ini menciptakan kondisi perairan yang berarus namun tidak sampai merubah performa alat secara signifikan yang membuat ikan kesulitan masuk. Komposisi Jenis berdasarkan family ikan pada kondisi kecepatan arus lemah dapat dilihat pada Gambar 3.














Gambar 3. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kondisi arus Lemah

Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kecepatan arus yang lemah menunjukkan bahwa jenis tangkapan dominan adalah ikan Trichiuridae (Ikan Layur) dengan tangkapan tertinggi 163 Kg pada trip ke 29. Adapun jenis tangkapan terendah adalah Sphyraenidae (Barakuda) yakni 1 Kg pada trip ke 29. Hal ini menunjukkan bahwa ikan Layur tertangkap dengan gerombolan yang besar dan diperkirakan mencari makan di sekitar set net. Komposisi hasil tangkapan pada kecepatan arus yang sedang dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kondisi arus  Sedang

Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kecepatan arus yang sedang menunjukkan bahwa jenis tangkapan dominan adalah ikan Trichiuridae (Ikan Layur) dengan tangkapan tertinggi 200 Kg pada trip ke 23. Adapun jenis tangkapan terendah adalah Sphyraenidae (Barakuda) yakni 1 Kg pada trip ke 10. Komposisi hasil tangkapan pada kecepatan arus yang sedang dapat dilihat pada Gambar 5.















Gambar 5. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kondisi arus Kuat

Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family ikan pada kecepatan arus yang kuat menunjukkan bahwa jenis tangkapan dominan adalah ikan Trichiuridae (Ikan Layur) dengan tangkapan tertinggi 91 Kg pada trip ke 5. Adapun jenis tangkapan terendah adalah Ephippidae yakni 2 Kg pada trip ke 2. Ikan-ikan yang dominan tertangkap pada berbagai kondisi arus adalah ikan Layur yang merupakan family Trichiuridae.

III.2 Pembahasan
Penelitian ini menunjukkan hasil tangkapan terbesar adalah ikan dari family Trichiuridae sebesar 1402 kg (31.65 %), Carangidae 1123 kg (25.35%), Leiognatidae 624 kg (14.09%), Belonidae 305 kg (6.88%) dan Sphyraenidae 211 kg (4.76%). Ikan – ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan-ikan yang bergerombol atau ikan-ikan yang senantiasa bermigrasi. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Baskoro dkk (2011) yang menyatakan bahwa ikan yang biasanya tertangkap di set net adalah ikan-ikan yang bersifat bergerombol atau bermigrasi. Variasi jumlah hasil tangkapan harian menunjukkan perilaku ikan berada di sekitar set net seperti mencari makan, menghindari predator atau faktor lingkungan lainnya. Keberhasilan operasi penangkapan juga dipengaruhi oleh besar dan sifat gerombolan ikan.  Memprediksi gerombolan dan kedatangan ikan dapat dilakukan dengan pendekatan matematika (Takagi, dkk. 2004).
Perbedaan hasil tangkapan juga dapat dipengaruhi oleh waktu pengangkatan kantong sebagimana penelitian yang dilakukan Sudirman dkk (2001) melihat perbedaan hasil tangkapan set net tradisional di Teluk Bone berdasarkan waktu pengangkatan kantong yang menunjukkan bahwa hasil tangkapan terbanyak adalah di sore hari.
Kondisi oseanografi yang diukur, dititikberatkan pada kecepatan arus. Besaran arus sangat mempengaruhi performa alat yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil tangkapan. Sudirman et al (2000) mengungkapkan bahwa Kecepatan arus maksimum  dalam keberhasilan pengoperasian set net tipe “othosi ami” tidak lebih dari 0.4 knot. Pergerakan arus juga dapat dihubungkan dengan keberadaan sumberdaya perairan (berbagai spesies ikan), arus merupakan faktor penunjang yang memungkinkan set net menjadi tempat penyedia makanan bagi organisme perairan melalui rantai makanan sebagaimana penelitian Yamane,dkk (2002) bahwa perubahan arus oleh angin  mempengaruhi proses penangkapan ikan pada set net.

IV.           KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1 Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 14 family ikan yang didapatkan selama penelitian dengan total tangkapan 4430 Kg. Tangkapan dominan dari family Trichiuridae  1402 kg (31.65 %), Carangidae 1123 kg (25.35%), Leiognatidae 624 kg (14.09%), Belonidae 305 kg (6.88%) dan Sphyraenidae 211 kg (4.76%). Analisis pengaruh kecepatan arus yang berbeda terhadap hasil tangkapan didapatkan adanya hubungan yang signifikan kecepatan arus yang sedang terhadap hasil tangkapan.
IV.2 Saran
Diharapkan adanya penelitian lanjutan pada musim yang lain agar dapat memberikan trend perubahan komposisi hasil tangkapan set net selama beberapa musim.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian penelitian ini. Khususnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. H. Sudirman, MP dan Bapak Dr. Muh. Abduh Ibnu Hajar, S.Pi, M.Si selaku Pembimbing Penelitian dan kepada rekan Saudara Aswad Eka putra, S.Pi, Halwi dan Awaludin noer, S.Kel. M.Si atas kerjasamanya selama penelitian. Tak lupa ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Alfa Nelwan, M.Si dan Dr. Muhammad Kurnia, S.Pi, M.Sc. yang telah membantu dalam penyelesaian dan penyempurnaan tulisan ini .

DAFTAR PUSTAKA
Allen, G.(2000). Marine Fishes of South – East Asia. A Field Guide for Anggers and Divers. Periplus. Singapura. P 292. 
Dirjen Perikanan Tangkap. (2005). Klasifikasi Ikan laut untuk Statistik Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode dan Teknik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan  Sumberdaya Perikanan,  Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. 60 hal.
Hajar. (2011). Pemanfaatn tingkah Laku Ikan pada Proses penangkapan “Jaring Perangkap Pasif” (Set Net, Teichi ami) di Teluk Mallasoro, Jeneponto, (Online), www.unhas.ac.id, diakses 3 Desember 2012 
Sudirman, Hajar, Musbir, Safruddin, Suhartono dan Arimoto. (2010).  Efektivitas Dan Keramahan Lingkungan Set Net Tipe Jepang Di Perairan Teluk Bone.  Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16;N0.1. hal 35-47.
Sudirman, Baskoro, Akiyama dan Arimoto, 2000. Observation On Set Net  Fisheries In Japan With Bibiliographical Reviewing; case study in Teteyama Bay and Ishigaki (Okinawa Island). Proceeding of The 3rd JSPS International Seminar on Fisheries Science in Tropical Area. Bali Island-Indonesia. 19-21 Agustus 1999. TUF-JSPS International Project. Volume 8 March 2000.
Sudirman, Musbir, Darmawansa dan Baskoro. (2001). Studi Hasil Tangkapan Berdasarkan Waktu Pengangkatan Kantong Pada Sero Jaring di Perairan Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, Vol. 1 No.3. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
Sofyan I, Jhoneria, Kasman AR. (2009). Aplikasi sistem informasi geografis dalam penentuan
Daerah pengoperasian alat tangkap gombang di Perairan selat bengkalis kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau. Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 14,2 (2009) : 128-134.
Takagi et al. (2004). Mathematical model of fish schooling behaviour in a set-net.(Online), ICES Journal of Marine Science, 61: 1214e1223. (http://icesjms.oxfordjournals.org, Diakses 25 Februari 2013)

Yamane T, Matsuda M and Hiraishi T. (2002). Influence of drift current on the capture process of a set net.(Online) (http://www.demat.uni-rostock. Diakses 1 maret 2013)

Komentar